Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Kecoak Dapat Menyebabkan Asma

Written By Kompdub on Senin, 12 Maret 2012 | 19.41

Kecoak Dapat Menyebabkan Asma Pada beberapa dekade lalu, jumlah kasus asma khususnya di kalangan anak-anak yang tinggal di pusat kota meningkat drastis. Asma merupakan penyakit kronis yang paling umum terjadi pada masa kanak-kanak.

Salah satu penyebab potensial meningkatnya asma pada anak-anak adalah banyaknya kecoak. Sejak lama banyak ahli alergi dan peneliti asma menduga adanya hubungan yang erat antara kecoak dan asma di pusat kota.

Perhatian terhadap kecoak sebagai pemicu asma terjadi pada saat para peneliti menjelaskan terjadinya peningkatan penderita asma di seluruh dunia. Hipotesis lain mencakup peningkatan polusi udara, perubahan kadar ozon, dan meningkatnya waktu yang dihabiskan orang di dalam ruangan, tempat beradanya sejumlah besar alergen dan dalam waktu lama.

Sekarang para peneliti dapat menguji beberapa kemungkinan dengan menggunakan berbagai teknik pengumpulan sampel yang dikembangkan beberapa tahun terakhir ini. Semua teknik ini dapat mengukur jumlah alergen—termasuk bagian tubuh kecoa dan kotorannya—pada udara dan debu dalam ruangan.

Sayangnya, membasmi kecoak tidak mudah. Kecoak sangat gesit dan dapat dijumpai di seluruh bangunan apartemen atau di bangunan rumah. Selain itu, kecoak mudah kembali lagi ke tempat sebelum mereka dibasmi.

Walau tidak ada solusi yang sempurna, tetapi ada langkah pencegahan, seperti membersihkan makanan, menyimpan makanan dalam wadah yang tertutup rapat, dan menggunakan perangkap kecoak serta pestisida yang aman.
19.41 | 0 komentar | Read More

Perbedaan Tuberkulosis dan Asma

Perbedaan Tuberkulosis dan Asma Asma dan tuberkulosis (biasa disingkat TBC atauTB) merupakan gangguan pernapasan yang banyak diderita masyarakat Indonesia. Meski keduanya berbeda, masih banyak orang yang menyangka asma dan TB saling berkaitan. Banvaknya masalah kesehatan yang berkaitan dengan paru membuat kebanyakan orang menilai sama tiap gangguan yang timbul.

"Dari gejalanya saja sudah berbeda. Asma menyebabkan penderitanya sulit bernapas atau napasnya jadi pendek-pendek, sedangkan gejala khas TB adalah batuk yang tak kunjung berhenti dan berkeringat cukup banyak di malam hari," kata Dr. Mukhtar khsan, Sp.PK, MARS, ahli kesehatan paru dan RS intemasional Bintaro.

Penyebab dan penularan kedua penyakit ini juga berbeda. TB bisa ditularkan lewat udara yang terkontaminasi kuman Mikobakterium tuberculosis akibat ada penderita TB aktif yang melepaskan bakteri lewat batuk atau lendir yang dibuang sembarangan.

Janin juga bisa tertular TB lewat ibunya sebelum atau selama proses persalinan karena menghirup udara yang mengandung bakteri. Di beberapa negara terbelakang dan berkembang cukup banyak anak yang tertular TB karena minum susu yang tidak disterilkan.

Sementara itu, asma terjadi karena faktor keturunan, bukan ditularkan. "Bila salah satu atau kedua orangtua, kakek, atau nenek menderita asma, bisa jadi orang tersebut menderita asma juga," ujarnya.

Asma tidak menular
Barangkali asma disangka penyakit menular karena sering ditemukan dalam satu keluarga ada lebih dari satu penderita asma. Asma adalah penyakit keturunan. Jika orangtua asma, besar kemungkinan anaknya juga asma.  Tambah lagi, akibat sesak napas, pasien jadi sering batuk. Sekilas gejalanya jadi mirip TB," tutur Prof. DR. Dr. Heru Sundaru, Sp.PD, KAI, dari FKUI yang menaruh perhatian pada penyakit asma.

Ada hal menarik yang dijabarkan Prof. Heru mengenai asma. Ternyata asma bisa dihindari meski kedua orangtua mengidap asma. "Kuncinya adalah faktor lingkungan. Anak yang dititipkan atau dibesarkan kepada orang lain atau dengan lingkungan yang berbeda bisa terhindar dari serangan asma," sebutnya.

Asma biasanya hanya kambuh jika terangsang oleh suatu zat atau benda yang menjadi pemicu, seperti debu, asap rokok, bulu binatang, asap kendaraan, kelelahan.

Hal lain yang membedakan adalah TB bisa menyerang berbagai organ lain dalam tubuh. Jadi tidak hanya jaringan paru yang diserang dan dirusak. Mulai dari tulang hingga otak bisa terinfeksi bakteri penyebab TB, sedangkan asma pada dasarnya menyerang paru saja.

"Sebenarnya asma tidak merusak paru secara langsung, melainkan hanya membuat saluran udara paru membengkak karena reaksi alergi terhadap sesuatu. Akibatnya penderita susah bernapas," imbuh Dr. Mukhtar.

Sama-sama bisa balik
Karena penyebab dan gejalanya berbeda, pengobatan keduanya pun berbeda. Pada asma, pengobatan bertujuan untuk mengurangi gejala sesak. "Obat hanya untuk melegakan saluran pernapasan karena asma tidak dapat disembuhkan. Asma hanya dapat dikontrol tingkat serangannya. Obat bisa berupa semprot seperti ventolin atau diinjeksi," ujarnya.

Pada kasus TB, penderita dapat sembuh total dengan obat jenis antibiotika. Dengan catatan, si penderita mengikuti semua petunjuk ahli medis dan minum obat sampai habis. Pengobatan TB makan waktu lama. Agar penderita sembuh benar, diperlukan waktu enam hingga sembilan bulan masa terapi.

"Kendalanya, seringkali pasien merasa kondisinya sudah balk, jadi tidak melanjutkan terapi obat. Bisa juga pasien bosan minum obat. Hal itu sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kuman TB kebal terhadap obat yang pernah diberikan. Jika sudah demikian, pengobatan TB akan lebih sulit dan memakan waktu serta biaya lebih banyak lagi," paparnya.

Ada satu kesamaan antara asma dan TB, yaitu sama-sama bisa kembali kapan saja ketika penderitanya lengah. Tidak ada jaminan seseorang yang sudah sembuh dari TB akan bebas dari serangan TB selanjutnya. "Ikuti pola hidup dan pola makan yang sehat untuk mencegah kembalinya TB," katanya.

Untuk penderita asma, sebaiknya jaga kondisi tubuh jangan sampai terlalu lelah dan hindari faktor pencetus
19.40 | 1 komentar | Read More

Jauhi Debu dan Asap Rokok

Jauhi Debu dan Asap Rokok  Debu dan asap rokok berada pada peringkat pertama dan kedua penyebab seseorang mengalami asma. Demikian disampaikan Ketua Dewan Asma Indonesia Prof dr Faisal Yunus dalam peringatan Hari Asma Sedunia.

"Kebanyakan karena debu bisa langsung asma. Kedua itu asap rokok," ujarnya,  di Silang Monas, Jakarta. Namun, ia menjelaskan, penyebab asma tiap orang berbeda-beda, seperti asap kendaraan, udara dingin, dan makanan.

Faisal menyarankan penderita asma untuk menghindari faktor pencetus tersebut. "Bisa juga senam asma untuk penderita asma tidak akut. Senam membantu pernapasan yang baik," ujarnya menjelaskan.

Penyakit asma bisa timbul karena dua hal, yakni genetik (turunan) dan lingkungan. "Sebanyak dua pertiga penderita asma itu karena lingkungan. Yang genetik cuma sepertiga," ucapnya kepada Kompas.com.

Kini, jumlah penderita asma di Indonesia mencapai 5.000 orang. Sebanyak 64 persen dari 400 orang tidak terkontrol asmanya.
19.38 | 0 komentar | Read More

Makanan Kolesterol Penyebab Asma

Makanan Kolesterol Penyebab Asma Burger dan kentang goreng tidak cuma buruk untuk lingkar pinggang, tetapi juga memperburuk asma. Selain meningkatkan risiko peradangan di saluran napas, makanan tinggi lemak itu juga membuat tubuh tidak merespons terapi untuk mengendalikan asma.

Hasil studi yang dilakukan tim ilmuwan dari University of Newcastle itu menambah bukti bahwa faktor lingkungan, seperti pola makan, berpengaruh pada perkembangan penyakit asma. Padahal, dalam dua dekade terakhir pola makan cepat saji yang tinggi lemak makin digemari banyak orang.

Kendati hasil studi itu masih perlu pembuktian lebih lanjut, para ahli menyarankan untuk mengurangi asupan makanan tinggi lemak sebagai salah satu cara mengontrol asma.

"Bila sudah ada studi lanjutan yang menguatkan studi ini, pengaturan pola makan bisa menjadi strategi yang penting untuk mengendalikan asma," kata Lisa Wood, ketua peneliti dari University of Newcastle. Hasil penelitiannya akan dipresentasikan dalam pertemuan American Thoraric Society's International Conference, minggu ini.

Asma merupakan kondisi kronis yang terjadi saat saluran pernapasan utama paru-paru (bronkus) meradang. Selama ini asma lebih dikaitkan dengan alergi, belum ada peneliti yang secara khusus melihat dampak makanan tinggi lemak pada penderita asma.

Dalam studinya, Wood dan timnya mengamati 40 penderita asma yang dibagi menjadi dua kelompok. Pertama adalah yang mengasup makanan tinggi lemak, seperti burger, dan kelompok lainnya yang diberi yoghurt. Makanan tinggi lemak mengandung 1.000 kalori, 52 persennya berasal dari lemak. Sementara makanan rendah lemak hanya 200 kalori, 13 persennya dari lemak.

Berdasarkan hasil analisa contoh air liur, terjadi peningkatan sel imun yang disebut neutrophils di saluran napas pada kelompok yang makan burger. Neutrophils merupakan pemicu peradangan. Bukan hanya itu, pada kelompok ini juga kerja obat pengendali asma di paru juga menjadi lebih lambat.
19.37 | 0 komentar | Read More
Techie Blogger