Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

BI Yakin Nilai Tukar Rupiah Membaik

Written By Kompdub on Rabu, 28 Agustus 2013 | 19.29






JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai tukar rupiah sudah menguat beberapa hari belakangan. Data per hari ini, nilai tukar berada di posisi Rp 9.929. Bank Indonesia (BI) yakin, rupiah terus akan menguat seiring dengan perbaikan ekonomi Amerika Serikat (AS).

"Meski ketidakpastian global masih tinggi, namun diperkirakan tekanan pada nilai tukar akan berkurang seiring dengan perbaikan ekonomi AS," jelas Direktur Departemen Komunikasi, Peter Jacobs, Jumat, (28/6/2013).

BI berharap, tingkat ekspor akan meningkat seiring perbaikan di negeri Paman Sam. Namun, untuk sementara ini, memang tekanan terhadap rupiah masih ada.

Oleh sebab itu, BI akan mementingkan langkah-langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar, moneter, dan makro ekonomi nasional. Namun, BI tidak akan menetapkan angka nilai tukar rupiah untuk bertahan di level nominal tertentu.

BI pun akan mengorbankan cadangan devisa untuk menjaga posisi nilai tukar. Peter bilang, BI tak akan menetapkan angka psikologis cadangan devisa sebesar US$ 100 miliar. Namun ia mengaku tak tahu berapa posisi cadev akhir bulan ini. Pada Mei kemarin, cadev Indonesia sudah menurun ke posisi US$ 105,149 miliar dari sebelumnya US$ 107,269 miliar di bulan April.

Menurut BI, posisi cadev saat ini masih cukup untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah. "Karena jauh di atas kebutuhan standar internasional," sebut Peter.

Kemudian, bank sentral ini melihat adanya total outflow yang terjadi sebagai uang panas. Ini pun menurutnya lazim, melihat situasi perekonomian yang tidak pasti. Peter menyatakan posisi outflow sekarang cenderung menurun dan membuat nilai tukar Rupiah relatif stabil.

Untuk itu, BI juga berusaha untuk mengantisipasi kebutuhan likuiditas di pasar. Terlebih, adanya peningkatan kebutuhan valas untuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi keuntungan korporasi. Peningkatan ini umum terjadi di periode akhir bulan dan akhir semester.(Annisa Aninditya Wibawa)




Editor : Bambang Priyo Jatmiko













19.29 | 0 komentar | Read More

Koo Kien Keat/Tan Boon Heong Belajar Bahasa India Bersama Jwala Gutta




Pebulu tangkis India, Jwala Gutta (kiri), berfoto bersama salah satu rekan satu tim di Delhi Smashers dari Malaysia, Tan Boon Heong, di Pune Sports Complex, Pune, India, Kamis (22/8/2013). | TWITTER.COM/GUTTAJWALA








LUCKNOW, KOMPAS.com - Pebulu tangkis cantik asal India, Jwala Gutta, berteman baik dengan ganda putra Malaysia, Koo Kien Keat/Tan Boon Heong. Pertemanan akrab mereka terbentuk karena sama-sama membela Delhi Smashers pada kompetisi Indian Badminton League (IBL), 14-31 Agustus.

Di awal kompetisi, Gutta yang adalah ikon di tim ini, belum bisa bermain karena cedera pada bahu. Gutta memanfaatkan waktu luangnya untuk membuat video kursus singkat berbahasa India. Di sela latihan di Extension Centre Badminton, Lucknow, Gutta mengajak Koo/Tan untuk belajar bersama.

Tahap pertama, Koo/Tan belajar cara memperkenalkan diri dengan bahasa India. "Kalau saya tanya, siapa namamu? kamu jawab dengan 'Mera nama'," kata Gutta dengan bahasa Inggris.

Dengan penuh percaya diri, Tan yang mendapat giliran pertama langsung merespon, "Mera nama Tan Boon Heong naaa..." Penuh semangat, Tan menambahkan kata tanpa arti di belakang kalimatnya. Ia dan Gutta pun tertawa bersama.

Berbeda dengan Tan, Koo merespon dengan lebih serius dan sedikit malu-malu. "Mera nama Koo Kien Keat," ujar Koo.

Gutta juga mengajarkan bahasa India untuk 'bulu tangkis' dan 'terima kasih', yakni 'chiricakka' dan 'dhanyava'.




Editor : Pipit Puspita Rini















19.11 | 0 komentar | Read More

KRL Sering Telat, Dirut KAI Salahkan Pemerintah

Written By Kompdub on Selasa, 27 Agustus 2013 | 19.58





JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Ignasius Jonan mengatakan, gangguan sinyal merupakan faktor utama penyebab keterlambatan KRL commuterline. Saat ditanyakan mengenai solusi untuk mengatasinya, Jonan menyerahkannya pada pemerintah.


"Kalau gangguan sinyal, salahkan pada pemerintah, uang prasarana tidak dikasih," ujarnya di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (27/8/2013).


Mengenai penumpang yang sering berdesak-desakan, Jonan mengatakan bahwa kondisi penumpang di kereta komuter lebih manusiawi dibanding masih membiarkan ada masyarakat yang naik KRL ekonomi. "Desak-desakan di kereta itu manusiawi, lebih baik sama-sama desak-desakan daripada membiarkan ada saudara-saudara yang lain naik kereta tak layak," ucapnya.


Secara terpisah, Kepala Humas Daops I PT KAI Sukendar Mulya mengatakan, kepadatan penumpang di jam-jam sibuk dialami oleh seluruh layanan kereta perkotaan di seluruh dunia. Sejak 25 Juli 2013, PT KAI telah menghapuskan KRL ekonomi non-AC. Hal itu menyebabkan adanya perpindahan masyarakat yang biasa menggunakan kereta tersebut ke KRL komuter.


Perpindahan penumpang tersebut belum diimbangi dengan kesiapan rangkaian KRL komuter tambahan. Saat ini PT KAI telah memesan 180 rangkaian kereta listrik baru dari East Japan Railways Company. Rencananya, ratusan rangkaian kereta listrik baru itu akan tiba paling lambat akhir tahun ini.





Editor : Laksono Hari Wiwoho
















19.58 | 0 komentar | Read More

Jokowi Akan Ajak Warga Waduk Ria Rio Lihat Rumah Baru





JAKARTA, KOMPAS.com - Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo ingin mengajak warga di Waduk Ria Rio, Pulogadung, Jakarta Timur, untuk meninjau rumah susun Pinus Elok di Cakung, Jakarta Timur. Di rusun itulah warga di bantaran waduk tersebut akan dipindah pada September 2013.


"Kita akan ajak ke Pinus Elok. Kita akan ajak 100 atau 200 warga untuk lihat-lihat di sana," ujar Jokowi di Balaikota Jakarta, Selasa(27/8/2013).


Dengan kunjungan itu, Jokowi ingin menunjukkan tempat tinggal baru bagi warga. Ia juga ingin memberikan jaminan bahwa warga akan mendapatkan tempat hidup yang jauh lebih layak.


Jokowi mengatakan tengah mencari perusahaan yang ingin melakukan kegiatan tanggung jawab sosial atau corporate social responsibility (CSR) dengan memberikan fasilitas di rumah susun tersebut. Dia yakin bisa mendapatkannya bertepatan dengan waktu relokasi warga waduk.


"Lengkap, ada TV, kulkas, meja makan, kasur, kompor, komplet pokoknya. Semuanya ada," ujarnya.


Saat ini rusun Pinus Elok masih dalam tahap renovasi. Jokowi yakin pembenahan rusun itu rampung sebelum relokasi warga Waduk Ria Rio. Rencananya, warga akan direlokasi secara bertahap. "Minggu ini selesai, minggu depan lagi," kata Jokowi.


Secara terpisah, Camat Pulogadung Teguh Hendrawan mengatakan telah mengundang perwakilan warga untuk berbicara tentang relokasi tersebut. Senin kemarin, Teguh mengundang warga untuk memberitahukan tentang rencana menengok rusun Pinus Elok. Namun, undangan itu tak terpenuhi.


Kawasan Waduk Ria Rio akan ditata oleh empat instansi. Sisi barat, timur, dan utara akan dibangun oleh Dinas Pertamanan dan Pemakaman. Adapun sisi selatan akan dikerjakan oleh PT Jakarta Propertindo. Normalisasi waduk akan dilaksanakan oleh Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta. Semuanya menggunakan APBD.


Saat ini Waduk Ria Rio tampak tak tertata. Permukaannya dipenuhi tanaman eceng gondok. Sisi timur dipenuhi permukiman kumuh. Sisi lainnya dipenuhi ilalang dan pohon pisang. Total luas kawasan itu adalah 25 hektar, sedangkan luas waduk 9 hektar.





Editor : Laksono Hari Wiwoho


















19.47 | 0 komentar | Read More

Ricky Martin: Aku Dulu Homophobia


Ricky Martin mengaku secara gamblang pada publik kalau dirinya adalah penyuka sesama jenis pada 2010. Sebelum mengakui hal itu, Ricky Martin bercerita kalau dirinya mengalami pergolakan batin. Bahkan sempat mengalami homophobia atau ketakutan berlebihan pada pasangan sesama jenis.


Penyanyi berusia 41 tahun itu mengungkapkannya pada majalah GQ Australia. Ricky bercerita ia besar di tengah keluarga Katolik Roma yang taat. Menjadi gay bisa dikatakan aib bukan hanya untuk dirinya tapi juga keluarga.


"Aku dulu sangat pemarah, pemberontak. Aku dulu melihat pria gay dan berpikir aku tak seperti itu dan tak ingin seperti itu. Itu bukan aku, rasanya memalukan," ujar pelantun lagu Maria itu.


Namun kelamaan ia seperti lari dari jati dirinya sendiri. Orang sekitar seperti menyalahkan dirinya dan rasa kepercayaan dirinya berada dalam titik terendah.


"Aku membawa kemarahanku bersamaku," ungkap Ricky.


Butuh sepuluh tahun bagi ayah dua anak itu untuk mengumpulkan keberanian dan mengakui kalau dirinya adalah seorang gay. Setelah sebelumnya secara diam-diam ia mengalami homophobia.


"Secara internal, bisa dikatakan aku dulu homophobia. Menyadari kalau itu akan mengkonfrontasiku, aku ingin pergi dari semua permasalahan itu," kata pemenang Grammy itu.


Ricky saat ini menjadi ayah dari dua anak kembar Matteo dan Valentino. Putranya lahir melalui ibu pengganti dan saat ini ia diketahui berhubungan dengan seorang pengusaha bernama Carlos González Abella.


19.38 | 0 komentar | Read More

Matikan Televisimu, Nak!





Catatan Kaki Jodhi Yudono

matikan siaran televisi itu nak,

aku tak mau kau terseret oleh kabar sampah yang menggunung di sana berupa silang sengketa pergunjingan para pesohor negeri ini, dan kau tahu nak, ayah sedemikian cemas kau tertular virus kebengisan yang dipancarluaskan secara berulang-ulang; ayah membunuh anak, keponakan membantai paman, adu cek-cok antar-warga, debat kusir para pembual, sampai perang tanding antar-suku, semuanya tersaji tanpa penghalang kepatutan.

Marilah nak, lebih baik kita main petak umpet, main damdas, dan saling kejar. Ayah yakin itu lebih bermanfaat bagi jiwa ragamu ketimbang berlama-lama di depan kotak elektronik yang bisa membuatmu gampang sakit dan jauh dari ayah, ibu serta saudara-saudaramu.

matikan segera televisimu nak,

sebab televisi kini telah menjelma nenek sihir yang akan menyulapmu menjadi kerbau dungu dengan tayangan-tayangan sinetron yang menghina akal sehat kita, dengan iklan-iklan yang akan membawamu ke dunia mimpi sampai membuatmu cuma kepingin membeli dan tak pernah terfikir untuk  mencipta.

Matikan televisimu, nak

ayo cari kawan-kawanmu di lapangan bola, di taman-taman kota, di pinggir kali, di mushola, atau di jalanan. Percayalah, di sana ragamu bakal lebih kuat, jiwamu kian terasah, dan akalmu akan lebih cerdas memahami kehidupan (JY, matikan televisimu, nak)

Anak-anak memang menjadi pelengkap penderita dari tayangan televisi. Ini dapat dilihat dari dari hasil penelitian yang dilakukan Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia tahun 1997 tentang program tayangan di stasiun televisi Indonesia. Hasilnya ternyata cukup mengejutkan, jumlah persentase acara televisi terutama yang ditujukan bagi anak-anak masih relatif kecil, hanya 2,7-4,5 persen dari keseluruhan tayangan lainnya.

Dan celakanya, dari peresentase tayangan yang sedikit itu juga memiliki materi yang sangat mengkhawatirkan bagi perkembangan anak-anak. Salah satunya adalah banyak mengandung adegan antisosial dari pada adegan proporsional. Adegan proporsional artinya tayangan yang
mengandung nilai-nilai dan makna positif seperti disiplin, jujur rendah hati cinta keluarga, sementara tayangan antisosial mengandung nilai-nilai makna negatif seperti kekerasan, kemewahan, pornografi dan mistik.

Tak cuma kelangkaan pada program anak. Ternyata tayangan yang menjauhkan sikap pemirsa dari rasa nasionalisme juga tak sedikit. Menteri Komunikasi dan Informatika RI Tifatul Sembiring pada tahun 2010 menilai 14 persen tayangan televisi swasta merusak national character buliding. Mereka yang memberikan lisensi dalam tayangan televisi harus mempertanggungjawabkan tayangan yang disiarkan.

"Menurut sebuah riset sekitar 14 persen tayangan televisi di Indonesia dapat merusak national character building," ujar Tifatul Sembiring seusai acara Asia-Europe Meeting (ASEM) Forum on Strengthening Coorporation in ICT Research & Developing di Hotel Golden Flower, Bandung, Selasa, 20 Juli 2010.

Begitulah, agaknya media televisi di negeri ini memang dibangun dengan semangat paling besar untuk mencari keuntungan dan sisanya baru untuk kepentingan ideal. Alasan pengelola televisi, seperti juga alasan kebanyakan pengelola media lainnya, lantaran mereka harus juga
menghidupi banyak manusia yang bekerja di dalamnya. Maka, mengabdi kepada laba rasanya bukanlah dosa.

Maka kini, sejak para pemilik stasiun televisi juga berkiprah di partai politik, "beban" pemirsa pun kian berat. Sebab, ada yang seperti dipaksakan pada siaran beberapa televisi yang pemiliknya adalah ketua partai atau calon presiden/wakil presiden. Ya, ya...Pemilihan Umum untuk memilih wakil rakyat dan presiden memang baru akan berlangsung tahun depan, tapi panasnya kini sudah mulai terasa di jalan-jalan dan ruang publik lainnya serta di ruang-ruang keluarga, terutama melalui televisi. Maklumlah, untuk media yang saya sebut terakhir itu beberapa di antaranya memang sudah menjadi corong pemiliknya yang kebetulan sebagai ketua umum partai maupun sebagai calon presiden atau wakil presiden yang akan maju pada Pemilu 2014 nanti. Walhasil, televisi yang seharusnya mengabdi kepada kepentingan publik, belakangan justru mengabdi kepada pemiliknya.

Padahal masa kampanye partai di media menggunakan frekuensi publik bila merujuk aturan Komisi Pemilihan Umum (KPU) belum dimulai. Tetapi masyarakat hampir saban hari disuguhi berita dan iklan calon presiden dan partai demi meningkatkan popularitas dan elektabilitas.

Mendapatkan kenyataan ini, KPI menegaskan akan memantau kampanye partai di televisi dan radio, terutama untuk program non-iklan, seperti berita, bincang-bincang, atau teks berjalan. Pengawasan dilakukan KPI mengacu pada Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang
Penyiaran serta Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran. Berdasarkan aturan itu, program non-iklan lembaga penyiaran tidak boleh untuk berkampanye.

Memang, bukan jaminan seorang tokoh poloitik atau partai bisa memenangi Pemilu jika mereka kerap muncul di media televisi. Contoh konkretnya adalah Barack Obama pada pemilihan presiden Amerika Serikat tahun lalu. Keberhasilan politikus Partai Demokrat Amerika
Serikat ini bukan didukung stasiun televisi. Hal serupa dialami oleh Joko Widodo yang tidak terlalu banyak beriklan di televisi.

Praktisi pertelevisian Ishadi mengatakan, stasiun televisi harus berpihak kepada masyarakat. Kalau tidak, akan ditinggalkan oleh penonton. Dia yakin makin sering sebuah stasiun menyiarkan partai tertentu, kian banyak orang tidak menonton stasiun itu dan tidak ada
iklan. "Saya sih tidak khawatir misalnya Surya Paloh satu jam di Metro TV. Kita sih senang saja sebagai kompetitor karena tidak ada yang nonton."

Seharusnya memang, semangat untuk berpihak kepada masyarakat harus lebih tinggi ketimbang keberpihakan kepada juragan televisi. Tak lucu bukan, mentang-mentang belum ada aturan mainnya, pemilik stasiun televisi bisa bebas menggunakan dan menguasai frekwensi sedemikian rupa untuk kepentingan pribadi maupun kelompok.

Tapi lihatlah sekarang, Metro TV "wajib" menyiarkan kegiatan Surya Paloh dan partainya, pun demikian dengan Aburizal Bakri yang memiliki TV One dan ANTV, serta Hary Tanoesoedibyo yang memiliki RCTI, Global TV, dan MNC TV. Maka jadilah ruang keluarga menjadi ajang
kampanye, melengkapi siaran-siaran yang "dipaksakan" oleh pemilik stasiun televisi itu sendiri untuk pencitraan dan pesan-pesan pribadi lainnya dari sang pemilik stasiun kepada khalayak.

Tentu, para pemilik stasiun televisi itu paham benar, betapa dahsyatnya media televisi. Kotak ajaib itu bisa membuat orang tak dikenal menjadi terkenal, membuat peristiwa yang biasa-biasa saja bisa menjadi luar biasa. Dan kini Aburizal menuai hasilnya. Dengan
kemunculannya secara rutin di ANTV dan TV One, elektabilitas ARB yang semula hanya 5,9 % di bulan Desember 2012, pada Juni 2013 melambung ke angka 8,8 persen. Maklumlah, dibandingkan dengan media massa (radio, surat kabar, majalah, buku dan lain sebagainya),
televisi tampaknya mempunyai sifat yang lebih istimewa. Televisi merupakan gabungan dari media dengar dan gambar hidup (live).

Maka tak heran jika pemirsa televisi di Indonesia mencapai 95 persen dari jumlah penduduk, seperti yang pernah diungkap oleh CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo. Hary mengatakan, masyarakat Indonesia yang jumlahnya hampir mencapai 250 juta, sebanyak 95 persen di
antaranya mendapatkan informasi dari televisi. Kedua, masyarakat mendapat informasi dari Internet (30 persen), kemudian berturut-turut radio (23 persen) dan cetak (12 persen). Pernyataan yang disampaikan Hary Tanoe pada sambutan acara Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia, Rabu, 26 Juni 2013.

Itu artinya, para pemilik stasiun tahu benar betapa media televisi bukan saja bisa mendatangkan banyak laba, tetapi juga bisa mendongkrak popularitas mereka yang beberapa di antaranya adalah ketua partai, dan beberapa di antaranya hendak maju sebagai calon
presiden dan wakil presiden.

Pengamat penyiaran Indonesia Ade Armando pernah wanti-wanti, lembaga penyiaran publik menjadi rawan dipolitisasi, "Berbahaya nanti kalau media sudah jadi kepentingan politik."

Armando menambahkan, orang akan sulit membedakan apakah mereka tampil karena membeli jam tayang atau karena kuatnya nilai berita. Jika disebut membeli jam tayang, kemunculan mereka di stasiun televisi bisa jadi tidak membayar. Sebab itu televisi mereka sendiri dan tidak
dapat disebut pelanggaran.

Ketidakjelasan posisi politikus ketika muncul di program siaran stasiun telebisi ini menurut Armando bisa berbahaya bagi lembaga penyiaran publik. Sebab, masyarakat memiliki hak mendapat siaran benar dan berimbang.

Padahal fungsi media televisi dan media lainnya mestinya memang sebesar-besarnya ditujukan untuk kepentingan pemirsa. Sebab memang semua media didirikan dengan tujuan untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan publik, bukan untuk memenuhi keinginan pemiliknya.

Yang pertama, sebagai pemberi informasi. Perkara pemberi informasi, pastilah berurusan dengan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Hal yang paling sederhana adalah informasi yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Dia bisa berkait dengan bencana, harga kebutuhan
pokok, penemuan baru, dan sebagainya.

Selanjutnya, fungsi media adalah sebagai "anjing penjaga" bagi bangsa dan negerinya dari kecurangan yang diperbuat oleh siapapun. Kecurangan itu bisa bernama korupsi, perusakan hutan dan lingkungan hidup, dan praktik-praktik kecurangan baik di pemerintahan, parlemen maupun hukum.

Fungsi ketiga, adalah alat propaganda, baik dalam arti sempit maupun luas. Dalam arti sempit, media televisi adalah sarana yang manjur untuk mempromosikan barang dagangan. Dalam arti luas, media televisi bisa menjadi corong bagi negara ke pihak asing dalam rangka membangun citra dan mendatangkan turis atau modal asing.

Fungsi keempat adalah sebagai sarana hiburan. Untuk perkara ini, kita mengenal sinetron, talkshow, musik, infotainment, dan seterusnya.

Nah, jika kita melihat sebagian besar televisi kita, sudahkah mereka menyajikan apa yang kita butuhkan dan inginkan sesuai fungsi-fungsi di atas?

@JodhiY




Editor : Jodhi Yudono


















19.31 | 0 komentar | Read More

BI Yakin Nilai Tukar Rupiah Membaik






JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai tukar rupiah sudah menguat beberapa hari belakangan. Data per hari ini, nilai tukar berada di posisi Rp 9.929. Bank Indonesia (BI) yakin, rupiah terus akan menguat seiring dengan perbaikan ekonomi Amerika Serikat (AS).

"Meski ketidakpastian global masih tinggi, namun diperkirakan tekanan pada nilai tukar akan berkurang seiring dengan perbaikan ekonomi AS," jelas Direktur Departemen Komunikasi, Peter Jacobs, Jumat, (28/6/2013).

BI berharap, tingkat ekspor akan meningkat seiring perbaikan di negeri Paman Sam. Namun, untuk sementara ini, memang tekanan terhadap rupiah masih ada.

Oleh sebab itu, BI akan mementingkan langkah-langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar, moneter, dan makro ekonomi nasional. Namun, BI tidak akan menetapkan angka nilai tukar rupiah untuk bertahan di level nominal tertentu.

BI pun akan mengorbankan cadangan devisa untuk menjaga posisi nilai tukar. Peter bilang, BI tak akan menetapkan angka psikologis cadangan devisa sebesar US$ 100 miliar. Namun ia mengaku tak tahu berapa posisi cadev akhir bulan ini. Pada Mei kemarin, cadev Indonesia sudah menurun ke posisi US$ 105,149 miliar dari sebelumnya US$ 107,269 miliar di bulan April.

Menurut BI, posisi cadev saat ini masih cukup untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah. "Karena jauh di atas kebutuhan standar internasional," sebut Peter.

Kemudian, bank sentral ini melihat adanya total outflow yang terjadi sebagai uang panas. Ini pun menurutnya lazim, melihat situasi perekonomian yang tidak pasti. Peter menyatakan posisi outflow sekarang cenderung menurun dan membuat nilai tukar Rupiah relatif stabil.

Untuk itu, BI juga berusaha untuk mengantisipasi kebutuhan likuiditas di pasar. Terlebih, adanya peningkatan kebutuhan valas untuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi keuntungan korporasi. Peningkatan ini umum terjadi di periode akhir bulan dan akhir semester.(Annisa Aninditya Wibawa)




Editor : Bambang Priyo Jatmiko













19.29 | 0 komentar | Read More

Chen Jin, dari Atlet Menjadi Pelatih





GUANGZHOU, KOMPAS.com - Mantan pebulu tangkis China nomor tunggal putra, Chen Jin, kini sedang menjalani kegiatan barunya sebagai pelatih, setelah gantung raket lima bulan lalu.  Juara dunia 2010 ini menjadi asisten pelatih tunggal putri, membantu Zhang Ning yang dulunya juga pemain nasional China.

Chen Jin memutuskan untuk berhenti sebagai pemain karena cedera yang didapat saat Olimpiade 2012 di London. Menurutnya, beralih profesi dari atlet menjadi pelatih, tidaklah sesulit kelihatannya.

"Saat berhenti. Saya hampir berusia 28 tahun dan sebenarnya masih bisa bermain jika bukan karena cedera. Tapi sekarang saya bisa tetap berada di dunia bulu tangkis. Dengan menjadi pelatih, saya bisa membagi pengalaman saya pada atlet muda China. Dengan demikian, mereka dapat belajar dari pengalaman saya.

"Beralih menjadi pelatih tidaklah sulit. Ini hanya masalah mengubah cara pandang. Sewaktu menjadi pemain, saya lebih memikirkan diri sendiri, sekarang saya harus memikirkan bagaimana mengatur jadwal tim dan melatih fisik serta mental atlet yang saya bina," kata Chen Jin seperti dilansir Badminton World Magazine.

Menurut Chen Jin, cara ia melatih berbeda dari pelatih China kebanyakan. "Saya adalah pelatih yang santai dan lebih sabar ketika menghadapi para atlet. Menurut saya, komunikasi antara pelatih dan atlet sangat penting. Terutama, karena saya melatih pemain putri. Ada perbedaan saat menangani pemain putri. Saya harus memahami karakter dan mental setiap pemain agar bisa membimbing mereka dengan baik."




Editor : Pipit Puspita Rini















19.11 | 0 komentar | Read More

Jokowi Pasrah Modal untuk BUMD Dipotong DPRD

Written By Kompdub on Senin, 26 Agustus 2013 | 19.58




Juru bicara KPK, Johan Budi, Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, bersama Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Adnan Pandu Praja (ki-ka), melakukan konferensi pers usai melakukan pertemuan di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (27/11/2012). | TRIBUN/DANY PERMANA








JAKARTA, KOMPAS.com — Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengaku pasrah terhadap sikap DPRD DKI, yang menolak jumlah penyertaan modal sebesar Rp 2,5 triliun dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk tiga BUMD. Menurut Jokowi, jumlah yang diajukan Pemprov DKI telah disesuaikan dengan kebutuhan sejumlah BUMD.


"Mau diperbaiki, direvisi berapa, tanya ke Dewan. Kita kan sifatnya mengajukan saja," ujar Jokowi di Balaikota Jakarta, Senin (26/8/2013) sore.


Meski demikian, Jokowi menyayangkan pemotongan modal yang diperkirakan dari Rp 1 triliun menjadi sekitar Rp 800 miliar. Menurut dia, Pemprov DKI Jakarta telah mengalkulasi jumlah modal itu sesuai dengan kebutuhan dari tiga BUMD tersebut. "Kebutuhannya, misalnya Bank DKI, ada peluang pasar, ekspansi pasar. Sudah sesuai itu," ujarnya.


Pemprov DKI telah mengajukan dana sebesar Rp 2,5 triliun dalam APBD Perubahan 2013. Dari jumlah itu, Rp 1 triliun di antaranya ditujukan untuk menambah modal ke tiga BUMD DKI, yakni Bank DKI, PD Jakarta Propertindo, dan PD Sarana Jaya.


DPRD DKI Jakarta menganggap bahwa jumlah itu terlalu besar dan dikhawatirkan tidak akan berkontribusi pada pendapatan Pemprov DKI. Apalagi, sesuai Kebijakan Umum Anggaran Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (KUAPPAS), jumlah modal yang diberikan di bawah Rp 1 triliun.


Ketua DPRD DKI Jakarta Ferrial Sofyan memperkirakan, jumlah modal yang disetujui oleh DPRD adalah sekitar Rp 800 miliar. Keputusan itu akan dilakukan pada rapat paripurna pembahasan RAPBD Perubahan pada Rabu (28/8/2013).





Editor : Laksono Hari Wiwoho


















19.58 | 0 komentar | Read More

Jokowi Pasrah Modal untuk BUMD Dipotong DPRD




Juru bicara KPK, Johan Budi, Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, bersama Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Adnan Pandu Praja (ki-ka), melakukan konferensi pers usai melakukan pertemuan di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (27/11/2012). | TRIBUN/DANY PERMANA








JAKARTA, KOMPAS.com — Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengaku pasrah terhadap sikap DPRD DKI, yang menolak jumlah penyertaan modal sebesar Rp 2,5 triliun dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk tiga BUMD. Menurut Jokowi, jumlah yang diajukan Pemprov DKI telah disesuaikan dengan kebutuhan sejumlah BUMD.


"Mau diperbaiki, direvisi berapa, tanya ke Dewan. Kita kan sifatnya mengajukan saja," ujar Jokowi di Balaikota Jakarta, Senin (26/8/2013) sore.


Meski demikian, Jokowi menyayangkan pemotongan modal yang diperkirakan dari Rp 1 triliun menjadi sekitar Rp 800 miliar. Menurut dia, Pemprov DKI Jakarta telah mengalkulasi jumlah modal itu sesuai dengan kebutuhan dari tiga BUMD tersebut. "Kebutuhannya, misalnya Bank DKI, ada peluang pasar, ekspansi pasar. Sudah sesuai itu," ujarnya.


Pemprov DKI telah mengajukan dana sebesar Rp 2,5 triliun dalam APBD Perubahan 2013. Dari jumlah itu, Rp 1 triliun di antaranya ditujukan untuk menambah modal ke tiga BUMD DKI, yakni Bank DKI, PD Jakarta Propertindo, dan PD Sarana Jaya.


DPRD DKI Jakarta menganggap bahwa jumlah itu terlalu besar dan dikhawatirkan tidak akan berkontribusi pada pendapatan Pemprov DKI. Apalagi, sesuai Kebijakan Umum Anggaran Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (KUAPPAS), jumlah modal yang diberikan di bawah Rp 1 triliun.


Ketua DPRD DKI Jakarta Ferrial Sofyan memperkirakan, jumlah modal yang disetujui oleh DPRD adalah sekitar Rp 800 miliar. Keputusan itu akan dilakukan pada rapat paripurna pembahasan RAPBD Perubahan pada Rabu (28/8/2013).





Editor : Laksono Hari Wiwoho


















19.47 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger